Photography

PhotoVoices, Menyuarakan Isu Lingkungan di Indonesia Melalui Fotografi

Ilustrasi pemandangan alam di Indonesia. (dok. Pixabay)

Jakarta – Berbagai pihak saling bersahut-sahutan menyuarakan isu lingkungan, sekaligus menawarkan solusi yang bisa diterapkan setiap orang. Dari sekian banyak, medium fotografi tak luput dari perhatian.

Terkait itu, melalui webinar “Bersuara untuk Indonesia Lestari,” beberapa waktu lalu, Yayasan Konservasi Alam Nasional memberi penghargaan pada PhotoVoices International melalui Tri Soekirman selaku Direktur Eksekutif. Apresiasi ini diberikan atas upaya menyuarakan keadaan alam Indonesia melalui fotografi.

Berdasarkan laman resminya, PhotoVoices International merupakan inisiasi Ann McBride yang lahir di Bali pada 2005. Ia percaya, kekuatan mendongeng yang tak lekang waktu bisa mengubah pikiran seseorang, sekaligus mengarah pada perubahan yang kekal. Lewat fotografi, mereka ingin mendorong cerita tentang budaya, alam, konflik, dan isu-isu lain.

Uniknya, fotografer yang biasa mengabadikan gambar di komunitas ini bukanlah pemotret profesional, melainkan masyarakat setempat. Mereka yang ingin jadi “fotografer lokal” biasanya akan mendapat pelatihan penggunaan kamera, serta dasar-dasar fotografi selama enam bulan sampai satu tahun.

“Dari masing-masing desa itu ada 10–15 orang yang ikut pelatihan, dan mereka akan menentukan masalah apa yang mau dijadikan tema,” kata Soekirman. “Setiap minggu akan ada pertemuan, lalu membicarakan kira-kira hasil gambar yang mereka ambil dalam seminggu ini sudah mewakili permasalahan yang disetujui di awal atau belum.”

Foto-foto yang dihasilkan kemudian diberikan pada para ilmuwan, pejabat pemerintah, LSM internasional, ahli pembangunan ekonomi, antropolog, dan pihak terkait lainnya. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa pandangan masyarakat lokal bisa jadi sumber informasi dan berpengaruh dalam pengambilan keputusan.

Perlihatkan Kondisi Alam dan Dampak Lingkungan

Ilustrasi fotografi. (Photo by Fidel Fernando on Unsplash)

Setelah pelatihan dan pengambilan gambar, fotografer lokal akan mengadakan pameran di desa mereka untuk menghormati karya tersebut. Kesempatan itu juga dimanfaatkan untuk menambah cerita mereka sebagai pelengkap potret.

Tema yang biasa diangkat adalah keadaan alam dan dampak lingkungan yang jarang terlihat “orang luar.” Salah satu yang telah diabadikan adalah tradisi berburu paus di Lamalera, Pula Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Meski kegiatan ini telah dilarang pemerintah Indonesia, masyarakat Lamarela tetap melakukannya karena dianggap jadi bagian dari kearifan lokal. Para pemburu biasa menggunakan kapal layar yang disebut paledang. Daging paus nantinya akan ditukar dengan buah-buahan, sayuran, dan komoditas lain di pasar lokal.

Melalui gambar yang telah diambil, PhotoVoices ingin membuat masyarakat luas mengetahui kegiatan ini, sekaligus mengimbau jika kegiatan ini tidak dilakukan dengan cermat, bisa saja membawa dampak buruk ke depannya.

Tema lain yang pernah diangkat adalah keadaan hutan mangrove di Semanting, Kalimantan Timur. Melalui gambar-gambarnya, sang fotografer ingin menceritakan bahwa hutan mangrove berfungsi sebagai penahan abrasi, di samping punya peranan penting selama musim kawin ikan-ikan laut.

Leave a Reply